Sustainable Construction pada Industri Konstruksi di Indonesia

construction site
0 33

Sustainable Construction pada Industri Konstruksi di Indonesia

Apabila kita berbicara tentang industri konstruksi, maka kita tidak lepas dari perbincangan tentang limbah serta carbon footprint atau jejak karbon akibat kegiatan konstruksi. Memang apabila kita berbicara tentang lingkungan, industri konstruksi termasuk salah satu industri yang memiliki peran besar dalam menyumbang gas rumah kaca. Betapa tidak, banyak rantai dari kegiatan industri yang meninggalkan jejak karbon. Mulai dari produksi material hingga proses pembangunan membutuhkan banyak energi yang menghasilkan gas rumah kaca.

Akhir-akhir ini isu sustainable construction semakin mencuat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Tanpa kehadiran lingkungan yang sehat, secara tidak langsung akan membuat keberlangsungan industri menjadi terhambat. Lingkungan yang tidak sehat akan membuat kualitas sumber daya manusia menurun. Kualitas sumber daya manusia yang menurun membuat industri menjadi melambat atau bahkan mati.

Apa itu Sustainable Construction?

Sustainable construction adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan kegiatan konstruksi yang ramah lingkungan. Hal ini berarti proses pembangunan diarahkan agar memperhatikan efisiensi sumber daya energi, pengontrolan limbah dengan daur ulang, mendorong terbentuknya area penghijauan kota, serta mendorong manufaktur bahan bangunan untuk memproduksi bahan-bahan dengan sertifikasi green label. Tidak hanya soal lingkungan, aspek sosial dan ekonomi pun juga diperhatikan agar tetap berkelanjutan.

Lalu apa saja tantangan yang perlu menjadi perhatian kita agar industri konstruksi dapat berkelanjutan?

Eksploitasi Sumber Daya Alam

Material bahan bangunan yang kita perlukan untuk proses konstruksi banyak yang merupakan sumber daya alam tidak terbarukan. Contohnya adalah biji besi, semen, dan batu semuanya tersedia dalam jumlah yang terbatas. Banyak bukit-bukit yang dikeruk untuk menghasilkan semen. Sementara industri konstruksi tumbuh, bukit-bukit ini tidak akan tumbuh lagi.

Atau ada juga sumber daya alam yang membutuhkan waktu yang lama untuk terbarukan. Seperti kayu yang butuh waktu bertahun-tahun agar siap untuk dijadikan bahan bangunan. Pertumbuhan kayu kalah cepat dibandingkan kecepatan dan masifnya pertumbuhan industri konstruksi.

Konsumsi Energi

Konsumsi energi pun semakin meningkat dengan perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi konstruksi. Kini banyak alat-alat untuk kegiatan konstruksi yang memerlukan energi besar. Belum lagi jika kita menghitung energi yang dikeluarkan mulai dari proses survey material, pembelian, hingga pengangkutan material ke lokasi proyek.

Saat ini rantai pasok bahan bangunan untuk industri konstruksi perlu dibuat lebih efisien agar dapat memnghemat energi yang dikeluarkan. Dengan mengurangi emisi energi, kita dapat berkontribusi pada perbaikan lingkungan.

Proses Pengolahan dan Transportasi

Walaupun berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, ironisnya industri konstruksi menyumbang kerusakan alam yang cukup besar. Industri konstruksi mengonsumsi 50% sumber daya alam, 40% energi, dan 16% air. Emisi CO2 dari industri konstruksi juga dinilai besae, yaitu sebesar 45%.

Memang, mulai dari proses mendapatkan material, pengolahan material, hingga pengangkutan material ke lokasi proyek membutuhkan energi yang cukup besar. Industri konstruksi memerlukan efisiensi rantai pasok suplai bahan bangunan agar dapat lebih berkelanjutan.

Source https://bildeco.com
Comments
Loading...